Sumpah Si Lidah Api

Cerpen: Ericha N. Khamalin

Terseok-seok kakinya menyusuri sepanjang jalan raya Batanghulu. Teriknya nirwana ikut membakar hati Lise yang meruap-ruap penuh amarah. Tanpa menengok kanan kiri, perempuan berambut sebahu itu berlari menyebrang jalan dengan sembrono. Kicauan mulut-mulut iblis, klakson-klakson tak dipedulikannya. Sampailah ia di jalanan sepi dekat persawahan. Lise mulai memperlambat langkah yang mulanya tergesa-gesa. Dengan hati hancur tak menentu. Nafasnya mulai tersengal berat sedari tadi berjalan setengah berlari.

“Bajingan, brengsek” umpatnya sambil menendang batu-batu kerikil.

Dilihatnya keadaan sekeliling, sepi tak ada orang. Ia pun semakin menjadi meluapkan amarahnya. Wajah penuh dendam terpancar jelas, membuatnya tampak garang. Tiba-tiba ia berhenti, dengan tatapan kosong tanpa nyawa. Dan tatapan kosong itupun berubah menjadi ratapan.

“Bangsat, laki-laki jahanam” Umpatnya sekali lagi dengan kucuran air mata. Ditutupkan kedua telapak tangan itu pada wajah. Ia pun tak berdaya berdiri. Duduk mencangkung masih dengan kedua telapak tangan menutupi wajahnya.

“Huhuhu” Suara tangis sesegukan itu tak mampu menyembunyikan luka di hatinya. Ia terus mempertanyakan pada keadaan. Kenapa laki-laki yang sangat dicintai mengkhianatinya. Lise merasa sangat dibodohi dan dibohongi. Laki-laki yang akan dinikahinya beberapa bulan lagi berkhianat. Ia bingung bagaimana harus menjelaskan kepada ibu dan keluarganya. Ia takut membuat keluarganya sedih. Dalam kerisauannya, Lise berdiri dan berteriak-teriak remuk redam mengeluarkan keluh kesahnya.

“Bangsaat, Burhan bajingan. Mati saja kau dengan selingkuhanmu itu.” Teriaknya penuh dendam. Lise pun menghilang dari jalanan persawahan itu, seiring dengan menyingsingnya matahari ke persembunyiaan yang membuat langit merona dalam bungkusan awan merah muda.

*****

Sinar hangat matahari pagi, menyisihkan butiran embun yang selalu ditunggu pucuk daun-daun. Menyisip di balik tirai hijau kamar Lise. Membangunkan perempuan yang tengah tertidur dalam ketidaksiapan menyambut hari esok. Matanya mulai berkedip lemah, sinar menembus tepat diwajahnya. Ia pun tersadar dari mimpinya, ada sisa air mata di pipi yang masih terasa lengket begitu dipegang. Ada bekas butiran air mata di atas bantalnya. Ia baru tersadar kalau semalam ia masih menangis hebat dengan keluarganya. Dan ketika memasuki hari baru ini, memang ada yang terasa berbeda dan hilang dari separuh ruhnya. Entah perasaan apa itu, tapi Lise merasa sedikit lega menguras seluruh kekecewaanya dalam tangis semalam. Ia pun merapikan rambut di depan kaca, terlihat mata yang masih sembab dan sayu.

“Huuuhhh” Ia menghela nafas kepasrahan. Hatinya mungkin tak sehancur kamarin. Tapi ingatan tentang Burhan kadang masih membuat hatinya menjerit pedih.

“Lise, Lis, Lise” Panggilan itu sontak menyadarkan Lise yang termenung di dapan kaca. Bergegas ia keluar dari kamarnya menuju teras. Ia mengenal suara itu, suara Surati tetangganya, perempuan separuh baya yang biasa dipanggilnya dengan sebutan Bi Sur. Ternyata di teras sudah ada Ibu Lise yang juga terkaget dengan panggilan Bi Sur.

“Lis Lise, tadi sehabis pulang dari pasar aku mendengar kabar mengejutkan” Kata Bi Sur memulai.

Lise mengernyitkan dahi. Kabar apa gerangan yang akan disampaikan Bi Sur sepagi ini. Perempuan itu memang tampak seperti baru berjalan jauh. Nafasnya tak beraturan. Tanpa menunggu jawaban dari Lise dan Ibunya, Bi Sur melanjutkan perkataannya.

“Burhan Lis, calon suamimu itu meninggal dalam kecelakaan semalam dengan seorang perempuan. Aku kira yang meninggal dengan Burhan itu kau Lis” Baca lebih lanjut

Iklan
By ibnuwicaksono Posted in kicau

Seekor Bebek Mati Bunuh Diri di Pinggir Kali.

Ini bukan cerita tentang cerpen Puthut EA,
Karena bebek yang ini tidak diperdebatkan, dan juga: tidak terlalu menggelisahkan.
tentu, bebek ini: tak ada pembunuhnya,
karena, sudah saya tekankan, bebek ini mati bunuh diri.

Di sela-sela judul yang meniru,
bukannya saya mencuri, saya hanya ingin menulisnya saja.

Daripada banyak basa-basi,
saya bercerita saja,
di malam yang hambar, saya melihat,
seekor bebek mati bunuh diri.

Mungkin, sebentar lagi-
dua ekor, tiga ekor dan seterusnya,
silahkan hitung sendiri.

Jember, 24 Oktober 2014

By ibnuwicaksono Posted in Puisi

“Hidup menjadi penting,” yakinku.

 

“di bawah pohon yang rerantingnya telah lesu, aku sandarkan tubuh, menatap langit dengan kosong. Kupejamkan mataku perlahan, semakin gelap, semakin aku terbawa dalam kerinduan akan masa itu, di mana aku dapat selalu menjadi kertas pada kata-kata yang kautuliskan.”

Mungkin, hidup ini memang tidak penting.

Itu kesimpulanku saat aku dulu, semasas SMA, menjalani hidup begitu saja. Mendengar guru berkicau, pulang dengan membawa lelah, berangkat pagi membawa harapan. Entah, harapan apa itu? Nyatanya, sampai sekarang aku masih terbenam dalam awan. Mungkin, ada sedikit celah untuk membuatku menemukan cahaya walaupun itu hanya lilin, ketika aku berkenal dengan beberapa teman di luar kelas. Masa itu, kelas menjadi hantu. Aku tidak ingin mati di dalam kelas. Seperti tulisan dalam kaos seorang kawan yang tidak akan pernah ada kata lupa untuknya. Pengibaran Sang Saka Dwi Warna, ialah menjadi ritual keseharianku, setelah suntuk menjadi pelajar dalam kelas. Aku seperti menemukan matahari pada malam yang mendung, sepert menemukan air pada gurun yang luas. Namun, ketika aku lulus, aku seperti kembali pada masa sebelumnya, masa di mana aku berada di dalam kelas, walaupun sekarang tak ada di kelas lagi.

Mungkin, hidup ini memang tidak penting.

Aku jalani hari, berharap ada harapan menghampiri, begitu saja, seperti angin yang berhembus begitu saja, memberi sejuk pada ketiak yang bau amis, memberi sejuk pada leher yang hitam.
Usai melakukan perjalanan panjang, aku mendapat harapan itu. Aku berkesempatan kuliah dengan beasiswa. Bukan ini yang ingin aku ceritakan, ini tidak terlalu penting.

Ada hal yang lebih penting dari masa kuliahku ini, dan aku langsung tarik ceritaku pada lembar waktu yang begitu cepat, misalnya novel; langsung aku menuju halaman ke-14.

Pada 14 Maret, 2014. Aku layangkan kunang-kunang yang suka berterbangan pada lampu neon yang berpendaran di malam hari. Pada saat itu, aku menemukan seorang perempuan, terkesan unik di awal, menyukai Avenged Sevenvold. Lagunya itu pas suka-sukanya “so far away”. Ia sudah bosan dengan dear god. Bukan itu yang aku persoalkan. Tapi, tentang seleranya pada musik. ia menyukai musik keras. Ia sangat nyaman dengan musik keras. Walaupun tampak sekali ia dengan jilbab yang membalut muka, baju yang menyelimuti tubuh penuh. Dan tak dapat aku temui lagu cherybelle dalam daftar musik kesukaannya.

Ia seperti datang begitu saja, seperti tokoh Minke pada keluarga Aneliss, di buku Pramoedya A. Toer yang berjudul Bumi Manusia. Hanya yang ini, tokohnya laki-laki. datang begitu saja, bertemu pada gedung PKM, lalu menjadi suka berkomunikasi, walaupun wajahnya tak lagi kuingat seusai perpisahan di PKM kala itu. Aku tak membayangkan kalau ia menjadi tokoh yang paling berperan dalam ceritaku.

Perempuan ini yang menghilangkan persepsiku yang awal tadi, sepertinya hidup menjadi penting. Sejak aku sering melakukan ritual perjumpaan mata dengannya aku seperti menemukan ruhku yang lama mati. Ia seperti angin teduh, seteduh-teduhnya ketika aku berada pada tanah yang kering, ia meraba tubuhku dengan lembut, memberi ketenangan,, angin yang benar-benar sejuk. Dan, pada saat itulah, aku menjadi berpikiran lain, bahwa : hidup ini penting.

Iya, kembali ke awal tadi. Pada, 14 Maret 2014. Aku mengajaknya makan mie kuah di jalan sumatera, yang buka 24 jam. sebenarnya warungnya lebih mengutamakan bubur kacang ijo, hanya kami lebih menyukai mie, untuk makan siang waktu itu.

Tepat, pukul 14.20, aku menjadi lebih memberi perhatian padanya. Tak hanya mengagumi lagi, lebih-lebih dapat memiliki.

“pada bulan pertama selepas purnama ini, hujan-hujan menjadi pernak-pernik masa di mana kita saling melayangkan kerinduan, saling bertukar kata dengan penuh keriangan, dan juga: bertekad selalu memberi perhatian, memberi kelembutan kasihsayang”

Ada beberapa jeda yang harus aku lalui pada perjalanan ini. Kita telah membuat rel kereta beserta kereta apinya, untuk kita tuju, sepanjang jalan. Namun, pada kisahnya. Aku seringkali membuatnya tak senang. Selalu saja airmatanya mencair dari mata teduhnya. Hanya gara-gara lelaki bodoh ini. Semoga aku tak mengulanginya, semoga aku tak membuatnya menangis lagi. Selalu aku berharap dalam tiap waktuku di hidup ini. Namun, aku memang terlalu bodoh yang akhrinya aku harus mengucapkan doa itu berkali-kali.

Aku sangat mencintainya.

Jika ini sebuah novel, aku yakin novel ini menjadikan seorang laki-laki dalam novel tersebut selalu ingin menjadikan tokoh perempuannya senang. Memang benar. Aku, seorang laki-laki, menjadi lain ketika menghadapinya. Menjadi lebih senang dalam sepanjang hari. Apalagi ketika berjumpa dengannya, walaupun itu GAK JELAS.

Aku sangat mencintainya.

Pada waktu itu, aku mendapat hentakan keras. Tak terduga. Ia membuatku menjadi lebih…. Bukan… Bukan…
Ia malah menjadikanku lebih cinta ketika ia marah. menjadikanku lebih tidak ingin jauh darinya, ketika kesal.
Waktu itu, aku menuju rumahnya, sepanjang Jember ke Sidoarjo, aku hanya membawa sekarung “maaf”

Aku sangat mencintainya.

Pada waktu itu, aku sakit. Jalan saja seperti ingin jatuh. Lantaran aku tak mau membuatnya agak jauh dari perhatianku. Aku hidupkan motor, melawan angin malam sepanjang Balung ke Tegal Besar, walaupun pada perjalanan; sempat terganggu, banku bocor.

Aku sangat mencintainya.

Sudah, aku tak mau bercerita yang lainnya. Aku bodoh menyia-nyiakannya pada saat itu. Dan aku tidak ingin menyia-nyiakannya lagi.
Ini sudah cukup. Ia yang membuat aku sadar bahwa hidup itu penting.

Bukan karena hidup itu penting. Tapi, karena adanya dirinya, hidupku menjadi penting.

 

01:40. Padamu, aku letakkan ruh ini, selamanya. Icha.

By ibnuwicaksono Posted in kicau

Sebelum Pembisikan keempat

 

Ibnu Wicaksono
………………………………………………………………………………………
/seorang pengingat
_________________________________________________________
Seperti huruf-huruf yang rela menangis dan menahan senyum
Kabung malam yang dingin, membuntuti keinginan yang terdesak
Mungkin semua tubuh (tak) seperti ingatan di lalu
Terasa ada yang mengguyur. Bukan rombongan dari hujan!
Baru-baru mulai merayu, membelai wajah yang terdampar pada aspal-aspal si air
Lompat! Lalu, ada yang membisikkan dengan setengah bibir
“Pulanglah, di kamarmu ada kekasih yang menunggu”
__________________________________________________________
Tanah-tanah yang lama membiru, diinjak oleh teriakan si air
Jembatan hasrat yang kita bangun dari kertas lusuh, itu
Merayap di kesunyian. Membusuk di celana dalam tubuh
Rindu adalah kekasih yang sebenarnya menaruh racun di air minum kita semalam
Piring-piring seperti berputar sendiri, memotong berpuluh-puluh pasang telinga
darah memuncrat di mana-mana. nanah meluap di sembarang waktu
Seperti ada yang berbisik dengan nada lemah penuh kepasrahan
“Pulanglah, di kamarmu ada kekasih yang menunggu”
___________________________________________________________
Sengaja hujan tak mengguyur lagi, menutupi diri di balik awan yang lemas
Penuh malu-malu, seekor burung menari di jalanan biasa hujan lewat
Seperti tergesa-gesa, kekacauan tadi malam ialah acara mempercakapkan kerinduan
Tak ada yang membusungkan dada lagi. Tak ada lagi payung
Semenjak payung hitam menusuk. Semenjak payung merah mengepal
Seperti ada yang berbisik, sekali lagi. Dengan nada serak, sambil menangis, air matanya berjatuhan tepat di nanah-nanah dan darah-darah yang berserakan. Tak lain, itu ialah nanah dan darahnya sendiri.
“Pulanglah, di kamarmu ada kekasih yang menunggu”
____________________________________________________________
Aku tak menoleh sedikit pun. Aku menatap ke depan
Penuh dendam yang sebenarnya merindu.
Penuh marah yang sebenarnya ingin bertemu.
Penuh kesal yang sebenarnya ingin memeluk tanpa melepas (lagi).
Aku katakan sebelum ia berbisik keempat kali
“Tidak, Jangan paksa aku!”

Lalu, silet yang ia pegang dari 12 tahun yang lalu. Ia iriskan di pergelangan tangan kirinya.

Jember, 2014

By ibnuwicaksono Posted in Puisi

Di ujung segala resah, “Aku” tidak mengenal pasrah

“ ….gerimis belum hinggap pada dinding depan rumah, hujan juga belum menyergap segala reranting yang kering. Hanya aku: menggerimisi dan menghujani wajah dengan rintik air dari sepasang mataku sendiri. di sini.”

Di sebuah pagi yang murung ini, selepas mengisi tubuh hanya untuk bisa bertahan menahan lapar, aku kembali murung, lebih murung dari pagi ini. Aku hampir lupa ini hari apa, aku hampir lupa ini bulan apa, aku hampir lupa aku siapa. Hanya kamu, seorang perempuan peneduh segala resah, penyeduh kehangatan tubuh pada kemarau yang sirna dan penyembuh segala rasa pedih dan perih, juga: pengisi hari yang tak akan pernah luput dari pikiranku, walaupun itu sepersekian detik.

Kamu, pasti mengingat lembaran awal pada sajakku, sebuah “ruh” yang benar-benar lahir untuk melahirkan aku yang telah lama mati. Dan, ada gerutu yang sengaja mencuat dalam benak detik ini, tulisan ini seperti ingin menuliskan sendiri beberapa kalimat yang mesti lahir sendiri tanpa aku pikirkan, kalimat seperti membantuku untuk merampungkan segala rindu yang selalu tertahan, segala keinginan bertemu yang selalu dipendam dan segala hal yang mesti diungkapkan pada pertemuan dua pasang bola mata. Tiada lain, mataku juga matamu. Sajak itu mencuat lagi pada “aku” yang kembali murung ini.

Ruh

Ruh itu terlahir kembali. Mengikat ujung kaki sambil
menelan sisa-sisa kulit, terkelupas. Mungkin
angin meledakkan seorang kemarau. Iya, tentang peti mati
seorang kekasih. Tapi, bukan soal, ini kelahiran yang tak asing,
namun haru dan baru. Telah lama tenggelam,
sebentar, sepenggal waktu, muncrat di permukaan

Dulu, seorang perempuan yang tubuhnya terbentuk dari rintik hujan
hampir saja memeluk tanah
yang tak pernah basah, hampir saja. Sehabis sore. Ia pergi. Berlari
dengan ribuan kaki yang telapaknya terbentuk dari sisa-sisa gerimis.

Ini pagi, angin murni. Meledak di bukit. Merah belum mendarah
karena manis-manis pada akhir, romantis
pada nama awal

Bukan soal tubuh dan diri lagi. Biar saja kematian
mengejar. Ini soal ruh, yang aku lukis tadi pagi.
Ujung kaki diikat, sesekali sisa-sisa kulit tertelan,
terkelupas

Menubuhkan ruh yang baru. Menyapa di kegelapan teduhmu.

2014

 

Malam sebelumnya berasa sangat gelap bagi “aku”. Aku seperti sudah mati sebelum nyawa dicabut, aku seperti pingsan sebelum tubuh benar-benar layu. Detik benar-benar seperti berhenti sendiri ketika pesan itu kamu sampaikan, ketika pesan yang hanya sembilan kata itu seperti sembilan panah yang siap menusuk tubuhku, tepat di jantung. Aku terbelalak . Pukul 22:50 malam sebelumnya dari hari ini, aku seperti kapas yang terombang-ambing, sampai tidak kenal pada hinggapan, tak kenal pada awal dan akhir. Pesan itu, seperti membuatku mati sebelum izro’il menemuiku.

Lalu, gerimis telah meninggalkan jejak pada tanah depan halaman. Gerimis telah menghilangkan suara pada kaca sebuah dinding ruangan ini. Tapi, aku merasakan gerimis yang sangat miris, hampir menyamai hujan. Gerimis itu turun dari pelupuk mataku membasah wajah yang diburu resah. Menyerbu leher, dada hingga kaki yang tak mampu lagi melangkah. Aku seperti stroke sebelum ada tanda-tanda.

Tidurku pun tak enak, sengaja aku pejamkan mata untuk tidur. Tapi, ruhku tidak bisa dibikin kompromi, ia memaksaku harus membuka mata agar kamu terjaga, agar “aku” bisa membangunkanmu tepat pada pukul tiga dini hari, melakukan kesepakatan sebelum kamu terbaring dalam mimpi (yang indah, tentu) dan aku terbingungkan dengan tubuhku sendiri. Hingga aku putuskan, aku taruh tubuh, aku beringkan badan ini, walaupun aku tak bisa diajak untuk bermimpi, karena kamu selalu terbayang dalam benak, selalu tampak dalam bayangan tubuhku sendiri, lantaran aku dan kamu: sudah menyatu di tubuh.

Aku olet-oletkan tubuh sambil berbaring, ke kanan ke kiri, memutar, bangun sebentar, lalu aku rebahkan lagi, berbaring lagi, dan adegan ini aku ulang-ulang hanya untuk merampungkan waktu, menyelesaikan jam-jam yang sepertinya tidak berlangsung cepat. Sampai akhirnya, entah aku tertidur atau tidak, aku tidak merasakan dunia mimpi sama sekali. Akhirnya pada pukul tiga kurang lima belas menit, aku harus segera siap-siap untuk membangunkanmu. Aku ketik pesan untuk kukirim pada nomor ponselmu, untuk membangunkanmu. Aku ketik banyak, lalu aku hapus kembali, lantaran aku belum merasa pas dengan pesan yang akan aku kirim. Aku pikir lagi, akhrinya pada pukul 02:57 aku putuskan mengirim pesan pada ponselmu hanya dengan satu kata “sayang”. Aku tunggu beberapa menit, tidak ada balasan. Aku mencari cara-cara lagi, hingga setelah aku kirim beberapa pesan dan menelponmu, akhirnya kamu membalas juga pesanku. Ya, walaupun singkat, setidaknya aku merasakan senang sudah ada balasan dari kamu.

Ketergesaanku membuat aku harus segera merampungkan kecemasan ini. Hanya satu yang aku ingin, aku ingin tubuhmu yang sudah melekat pada tubuhku ini, tidak memisahkan diri.

Ruh ini masih ruh

Dalam sepetak halaman, aku menyaksikan tubuhku melakukan beberapa adegan,
Ia mencari bayanganmu yang tak tersentuh
Segala rindu telah tercoba disampaikan dengan beberapa lakon
Namun, tetap rindu ini terlalu banyak, telah memenuhi celengan yang sebenarnya
Besarnya tak bisa dibayangkan

Ingat benar, aku akan kelahiran ruhku dulu
Aku seperti melihat tubuhku pada tubuhmu

Pada pagi murung, aku termenung
Memunguti air yang rontok membasah pada wajah

Tiada keinginan lain, selain melekatkan ruhku.
Ruh ini masih ruh
Aku mencintaimu penuh seluruh, seperti air yang jenuh namun tetap memberi teduh
Aku mencintaimu, sampai pada bumi ini runtuh

Bahkan, sampai ada dunia yang lain.

2014

Di ujung segala resah, aku tidak pernah menyerah, aku tidak mengenal pasrah. Aku seperti melihat wajah, perempuan dengan kaca mata yang indah, membalut sepasang mata yang……..

Tunggu, aku seperti benar-benar merasakan mataku ditatapmu. Seperti status yang kamu geletakkan pada facebookmu

“Serasa sedang menatap matamu . .
Kangen ”_____

Begitu pun aku, rindu ini memang benar-benar seperti hujan yang merindukan mendung, seperti bulan yang merindu ingin bertemu matahari. Aku juga sangat, amat merindukanmu, sekali lagi aku sangat. Kalau tidak percaya, kamu boleh bunuh aku dengan pisau. Aku pastikan kamu menemukan berbagai darah yang membentuk tulisan “rindu”  pada setiap kelucuran darahku.

Sampai detik ini, 06:16, waktu ketika kamu mengabariku kalau sudah terbangun kembali dan menonton televisi. Aku masih belum bisa memaksakan untuk memejamkan mataku. Kalimat-kalimat ini seperti memanggilku dari tadi, kalimat-kalimat ini sengaja ingin mendesakku untuk segera menuangkannya, disampaikan padamu dengan satu ucapan: “MAAF”.

“Aku sangat mengharapkanmu untuk menaiki kereta bersama denganku, berdua, pada rel yang kita buat sendiri. Tidak akan ada ujung, stasiun hanya untuk persinggahan pertemuan pelupuk mata kita lebih dekat, saling menatap. Lalu kita lanjutkan perjalanan lagi, terus berjalan, pada rel yang panjang: sampai kita menemukan kegembiraan dengan meritualkan air mata. Iya, peristiwanya sama dengan gambar kereta yang aku buat dengan kempyeng yang sudah aku beri ke kamu kemarin-kemarin ini. Kita terus berjalan, selalu berjalan melintasi rel yang kita buat sendiri: bersama-sama, selamanya.”

 

Aku sayang kamu, Icha.

 

Jember| 06:30| Jumat| 4 7 2014.

By ibnuwicaksono Posted in kicau

Adek

 

 

Di bening senjamu
Aku menjadi rintik-rintik senyum yang begitu pelan berjalan, di antara
rel kereta dan jendela kamarmu. Kamu berjalan sedikit
mengedipkan mata, tertutup kacamata sendu, dalam
tahun yang merindu. Di samping tubuhmu yang tergeletak malam itu. Aku
meniupkan ruh, sembari menyentuh keningmu yang sedari tadi
terbakar angin dan alam teduh

Di senyum pagimu
Aku berharap gerimis memeluk tubuhmu yang lapar, yang rindu dan ingin pulang
Tunggu saja, di balik detik, orang tuamu menyapa Tuhan
dengan lagu kesukaanmu dan demi perjalananmu yang masih panjang, gersang

Di cuek harimu
Aku menutup mata perlahan, berharap pelupuk mataku berjalan
menuju mata kakiku, agar ia tahu mata kakiku yang sedari tadi malam
mengucurkan air mata, deras, mengambil kenangan, membawa jernih dan tetesan
yang sisa, yang luka pada setiap pesan-pesan
yang kau tusukkan. Kau tusukkan sangat pelan
menembus jantung dan hatiku yang malu-malu
Terkagum, membuka mata: tampak wajahmu
menyiramkan air keteduhan, membasah pada dadaku yang lupa

Di sibuk waktumu
Aku mencari mentari yang lama mati. Menulis cerita-cerita
dari kematian seseorang yang ingin bunuh diri
Ada yang tertusuk matanya dengan pisau.
Ada yang terbelah kepalanya dengan pedang
Ada yang hancur berantakan tubuhnya, tertindih
bangunan tinggi yang roboh. Ada yang tersayat
wajahnya dengan sembilu, darah memuncrat
tulang patah, tubhu berserakan
Di saat kejadian-kejadian mengerikan tadi
Aku tertusuk, terbelah, tertindih dan tersayat cintamu

Di kacau perlumu
Aku ingin mengambil silet yang berserakan di pecahan kaca
di belakang rumahku yang telah hilang
Aku ingin mengambilnya dengan menutup mata yang kehilanan pelupuk
berjalan tanpa mata kaki yang sedih
Berpetualang tanpa tubuh yang teduh
JIka aku telah mendapat silet yang kehilangan
tempat asal. Aku juga ingin membuktikan, pada depan wajahmu
yang lembut dan senyum manis
Aku sayat kulit di tanganku
Biarkan darah menulis namamu

Di ketidaktentuan inginmu
Aku hanya ingin memanggil namamu di setiap bangun pagimu
Aku hanya ingin membenarkan kerudung yang mungkin saja miring, karena kamu yang terburu-buru
Aku hanya ingin merasakan setiap gerimis dan binang menjadi artistik malammu
Aku hanya ingin menulis ceria-cerita di tiap harimu.
Aku hanya ingin menemanimu, memberikan senyum saat kamu butuh teman
Aku hanya ingin mencintaimu, seperti tanah dari pohon selanjutnya. Iya, aku akan memberikan airku demi kerindanganmu, kerindangan kita

Di akhir tulisan ini
Aku ingin mencintaimu dan menyebut namamu di setiap bangun pagimu, Adek

 

By ibnuwicaksono Posted in Puisi

Kamu

 

 

 

“….Jika bertanya pada apa hati harus dijalankan, hanya bisa terjawab pada matamu yang teduh, ruh itu tumbuh, tiada lain pada senja yang belum jatuh. Aku butuh….”

Malam ini gelap tak luput untuk datang kembali. Gelap yang tidak hitam itu menindih segala pelukan pekat petang pada malam yang hampir hilang. Ruhku yang lama mati, ia mulai terlahir kembali saat ada kamu.

…..
Ruh

Ibnu Wicaksono

Ruh itu terlahir kembali. Mengikat ujung kaki sambil
menelan sisa-sisa kulit, terkelupas. Mungkin
angin meledakkan seorang kemarau. Iya, tentang peti mati
seorang kekasih. Tapi, bukan soal, ini kelahiran yang tak asing,
namun haru dan baru. Telah lama tenggelam,
sebentar, sepenggal waktu, muncrat di permukaan #

Dulu, seorang perempuan yang tubuhnya terbentuk dari rintik hujan
hampir saja memeluk tanah
yang tak pernah basah, hampir saja. Sehabis sore. Ia pergi. Berlari
dengan ribuan kaki yang telapaknya terbentuk dari sisa-sia gerimis. #

Ini pagi, angin murni. Meledak di bukit. Merah belum mendarah
karena manis-manis pada akhir, romantis
pada nama awal

Bukan soal tubuh dan diri lagi. Biar saja kematian
mengejar. Ini soal ruh, yang aku lukis tadi pagi.
Ujung kaki diikat, sesekali sisa-sisa kulit tertelan,
terkelupas
Menubuhkan ruh yang baru. Menyapa di kegelapan teduhmu.

2014
….

Entah, ruh itu seperti membentuk tubuh yang baru. Aku tersipu, kadang terharu. Melihatmu adalah melahirkan ruh yang baru. Melirikmu adalah mencuri ruh yang malu-malu. Mendengar suaramu (walaupun lewat speaker handphone) adalah seperti menyentuh ruh yang lama hilang dan kini siap mencipta kenangan, menulis sajak-sajak tentang perempuan yang mencintai nada keras, suka berpetualang, lebih-lebih memiliki keunikan yang lain. Sepertinya ruh ini terlahir untuk ditakdirkan melahir yang benar-benar baru. Itu, semenjak ada kamu.

Mungkin, memang memiliki itu kisah yang sangat panjang untuk dimiliki. Iya, aku tahu itu. Dan aku pun juga ingin tahu bahwa kamu juga harus tahu kalau aku ingin memiliki dengan pelan, membimbing dengan perasaan yang tak perlu buru-buru. Aku suka melihat matamu yang teduh.

Semoga kisah yang tak pernah terceritakan ini, segera tertulis. tertulis dalam buku-buku ruhku yang dulu. Sekarang ruhku baru. Siap untuk memeluk bayang-bayangmu yang sedikit berlari dalam kegelapan, namun penuh senyum kamu menatap, melihatku dengan hati, menoleh ke belakang. Dengan 2 katamu yang kau akhiri dengan <3. Aku ingin memilih untuk memiliki dengan pelan, menjaga seluruh mata teduh. Tiada lain, Hatimu.

Terpaksa, aku harus berhentikan tulisan ini, sebentar. Aku ingin mencintaimu dengan sederhana, seperti kata yang tak sempat diucapkan kayu kepada api yang menjadikannya abu.

Untuk ABS

By ibnuwicaksono Posted in kicau

Cin-tai

Ibnu Wicaksono

Aku, dalam pejam yang terburu. Masih memburu pencarian. Perih air mata, lancip tulang rusuk dan hati yang terjepit tisu-tisu kosong. Aku, lelangit yang terpuruk dalam pencarian. Menulis namamu adalah ritual mencari tubuh yang muram. Jangan bicara soal kerinduan. Membunuhmu adalah cinta yang paling sejuk, yang pernah aku rasakan. Aku sungguh tergila-gila dan mencintai pembunuhanmu.

 

Jember, 4 Januari 2014

//

By ibnuwicaksono Posted in Puisi

31 Desember 2013 – 1 Januari 2014

Ibnu Wicaksono

Di hari yang sama dengan suasana lain.
Di detik yang tak pernah beda, dan penuh ingin.
Aku melihat wajah tuhan pada sepasang mata ibuku.
Air mataku berkeluaran di mana-mana, menjelma keringat.

Sempat sebuah rasa runtuhkan seluruh senyum ranum rona dari mata-mata yang memasang dan (hampir) memasung.

//

By ibnuwicaksono Posted in Puisi